Pasar Properti Mencari Titik Keseimbangan Baru di 2016

 

InvestorCornerJakarta – Pasar properti di 2016 diprediksi akan mencari titik keseimbangan baru setelah mencapai titik penurunan terendah sepanjang tahun ini.

Demikian diungkapkan Pengamat Properti Ali Tranghanda,

“Ini titik terendah, tapi trennya ke depan akan naik. Pasar properti segera takeoff. Mungkin di awal tahun belum keliatan, namun di pertengahan 2016 pergerakan pasar mulai terlihat,” ungkap Ali.

Dia memprediksi, pasar properti akan mencapai titik klimaks (booming) pada 2018. Meski diakui pertumbuhan harga properti tidak akan setinggi booming pada 2009 dan 2011.

Segmen menengah diprediksi akan tetap menjadi primadona di 2016. Hal itu didukung dengan tren kemungkinan penurunan suku bunga acuan Bank Indonesia (BI Rate) yang diharapkan menurunkan suku bunga KPR. Sesuai pengalaman, setiap penurunan BI Rate sebesar 1 persen akan meningkatkan penjualan properti sebesar 4 persen-5 persen.

“Kita lihat potensi, kekuatan kita adalah bonus demografi, di mana segmen menengahnya lebih banyak. Ibaratnya seperti gentong, bukan piramida lagi. Jadi gemuk di segmen menengah. Ini cukup membahagiakan,” kata Ali.

Pemulihan pasar properti pada tahun depan diperkirakan dimulai dari luar Pulau Jawa terutama di wilayah timur Indonesia. Saat ini sejumlah pengembang gencar meluncurkan produk properti di wilayah tersebut seperti Manado, Makassar dan Papua.

Maraknya pasar properti di wilayah timur ini sejalan dengan gencarnya pembangunan infrastruktur di timur Indonesia yang dilakukan pemerintah. Sedangkan di Jabodetabek, potensi pasar terbesar ada di koridor timur terutama Bekasi.

Menurut Ali, Bekasi memiliki potensi besar ke depan, dengan adanya rencana pembangunan jalan tol lingkar luar Cimanggis-Cibitung dan Cibitung-Cilincing-Tanjungpriok yang membuat Bekasi terkoneksi dengan seluruh tol di Jakarta.

“Saat ini Bekasi belum terkoneksi karena kedua tol masih dalam proses pembangunan, namun begitu terkoneksi maka pasar akan gila-gilaan pesat disana baik proyek residensial maupun kawasan industri. Kawasan Cakung bakal jadi sunrise property di masa mendatang,” papar dia.

Salah satu indikasi ekonomi Bekasi akan bertumbuh dan permintaan properti menengah akan bergeser ke daerah tersebut dapat dilihat dari besar Upah Minimum Regional (UMR) di Bekasi yang lebih tinggi dibanding DKI Jakarta.

Faktor Penghambat

Sementara sepanjang 2015, pasar properti dikatakan mengalami tekanan, sehingga laju kenaikan harga properti terhambat. Namun, ungkap Ali, situasi itu sebenarnya merupakan berkah bagi konsumen, karena kalau harga properti naik terus, maka banyak orang makin sulit membeli properti.

Dibandingkan sebelumnya, Ali memberikan apresiasi kepada pemerintah saat ini yang mengeluarkan paket-paket kebijakan yang menyentuh sektor properti, sehingga dia optimistis ke depan kapitalisasi sektor properti akan meningkat.

“Tahun ini properti memang melambat, tapi ini bukan krisis. Ini siklus alamiah, dan sekarang pasar sedang menuju pemulihan,” ungkap Ali.

Di 2015 ada beberapa faktor penghambat pasar properti. Diantaranya, adalah isu perpajakan yang membuat banyak pembeli di segmen menengah atas menunda pembelian. Kemudian aturan LTV juga turut menganggu konsumen dan pengembang, belum adanya relaksasi kebijakan di sektor properti, dan adanya beberapa daerah yang sudah mengalami koreksi harga sangat tinggi sehingga butuh waktu untuk mencapai fase baru siklus properti.

About samgrup

SAM Grup Indonesia| Partner in Real Estate | Properties Consultant | Contractor | Developer | Design Interior| Property News | Products & Services.
This entry was posted in News. Bookmark the permalink.